Cerpen: Dia Di Meja Nomor 11 (Bag. 1)

“Halo…bo..boleh kenalan?” Tubuhku bergerak sendiri dari tempat dudukku di pinggir jendela besar, di lantai dua, di sebuah Coffee Shop di dekat kampus Setiabudhi. Aku sangatlah yakin, ini adalah hal ternekat yang pernah aku lakukan selama 21 tahun aku mejalani hidup. Dan aku berani bersumpah—tanganku kutawarkan kedepan untuk berjabat tangan—kalau untuk sepersekian detik aku sempat ‘kemasukan’ […]

Cerpen: Aim dan Anak Jangkrik

Masih dengan khusyuk menyirami lubang jangkring di halaman samping rumah Pakde Parsam yang penuh rumput Jepang aku makin kesal karena si jangkrik tetap tidak mau keluar dari sarangnya. Sudah tidak terhitung rasanya aku bolak-balik mengambil air menggunakan batok kelapa dari bak air yang digunakan untuk menampung air hujan di belakang rumah. Hari ini panas sekali, […]

Puisi: Pohon Nangka di Perempatan Jalan

Pohon nangka di perempatan jalan Berbuah tanpa diminta Besar-besar pula Sebesar kepala Sapi Brahma Sang Tuan dirumah kah? Ah, lagipula dirumah atau tidak tak kan jadi masalah Akan kuambil buah itu malam ini Tinggal kutunggu becak pangkalan pergi agar tak ada saksi Kalaupun ia tak mau pergi, tinggal kubagi dua buah nangka itu Toh besar-besar […]

Puisi: Mentari Tak Bertopi

Mentari tak bertopi menyinari sang rumput kering Kering menanti Menanti hujan Hujan dikala sore Sore menyala Nyala jingga Jingga yang hangat tak pilih kasih Mentari tak bertopi menyinari sang rumput kering Kering menunduk Menunduk sekarat Sekarat dibawah kaki Kaki harimau Harimau putih Putih yang terang menyilaukan mata Mentari tak bertopi menyinari sang rumput kering Ia […]

Rusa Militan: “Senandung Senja” Sebuah Lagu Romantis

Bandarlampung, Juni 2016 Senandung Senja waktu tergelincir sudah tak hilang bayangan lembut jemarinya menyeka deras air mata, redakan isak tangisku. canda nada ceritanya tak luput dari telinga dan menggema mengusik derai duka lara, antarku melawan lelah # Tinggal kisah,yang tergores dan terujar di akal ku. cukup kah lembaran cerita merekam kasih itu. berpuluh kali musim […]

Cerpen: The Diary Of The Earth

Bumi 2230, aku seorang pemuda berumur 28 tahun yang bekerja sebagai musisi jalanan. Aku sering mencari nafkah dengan menghibur di pinggiran jalan Bajuristraat—dulu disebut Jl. Sersan Bajuri—di Bandung hingga S Canal Street di Chicago, dari pinggiran sungai Thames di Oxford hingga Stasiun HoverTrain di Medan. Bergerak bebas mencari uang untuk sebuah ketela hangat—sudah tidak ada […]