Cerpen: Aim dan Anak Jangkrik

Masih dengan khusyuk menyirami lubang jangkring di halaman samping rumah Pakde Parsam yang penuh rumput Jepang aku makin kesal karena si jangkrik tetap tidak mau keluar dari sarangnya. Sudah tidak terhitung rasanya aku bolak-balik mengambil air menggunakan batok kelapa dari bak air yang digunakan untuk menampung air hujan di belakang rumah. Hari ini panas sekali, keringatku sudah menetes dari tadi, kedua kaki ku sudah pegal rasanya jongkok lama-lama, namun hasil buruan hari ini tidak keluar juga. Dengan hati kesal aku memutuskan bahwa hasil buruanku menang untuk hari ini. Menang atas ketahanan diri dari siraman air dingin dari atas sarangnya. Sedangkan aku sudah tidak tahan untuk jongkok disiram terik matahari yang saat ini berada tepat di ubun-ubun kepala.

“enggak keluar jangkriknya le? Mungkin sudah kosong itu sarangnya” jerit Bukde—yang aku lupa namanya—dari dalam rumah ketika aku lewat depan rumahnya untuk pergi dari kekalahan.

“Iya bukde gak keluar” Aku sudah malas menjawab panjang-panjang. Tidak ada artinya juga aku kasih tau dia kalau sarang itu masih baru kalau dilihat dari gundukan tanahnya yang masih basah. “Aku pulang dulu ya bukdee..” yang dibalas sautan “yooo..” sambil matanya masih terus fokus nonton sinetron siang hari yang disiarkan salah satu televisi swasta.

            Aku pun memutuskan pergi ke rumah Mas Tri yang tidak terlalu jauh dari rumah Pakde Parsam. Rumahnya berjarak sekitar dua rumah ke belakang, namun aku memutuskan tidak lewat jalan raya, tapi lewat kebun-kebun pisang dan singkong yang tumbuh tidak beraturan—milik siapa pun itu aku tidak terlalu peduli. Dengan membawa perasaan kecewa karena tidak dapat jangkrik hari ini, aku berharap Mas Tri ada di rumah, karena aku mau memamerkan kelereng susu yang baru aku temukan di jalan saat mencari-cari sarang jangkrik di dekat rumah. Warnanya yang putih bersih hanya terlihat sedikit saat aku menemukannya hampir sepenuhnya tertanam kedalam tanah. Untung saja aku diberkahi mata yang cukup jeli dan tajam, kalau anak lain sudah pasti tidak bisa menemukannya. Apalagi si Mei Mei, matanya kan sipit, mana bisa lihat kelereng yang hampir tertanam kedalam tanah ini. Hah!.

“BAAAAAAA!!..”

“AAAAAAAAAA..!!”Aku loncat mundur sambil menjerit sekuat tenaga bak diserang genderuwo. Badanku langsung lemas. Mata besarku yang aku bangga-banggakan sesaat tadi melotot kaget bukan main. Orang yang mengagetkanku itu sudah berguling-guling sambil terbahak di samping rumpun pohon-pohon pisang besar tempat ia bersembunyi menungguku lewat. Kesombonganku tadi langsung hancur lebur. Rasanya kejantananku telah diinjak. Langsung saja kucekik dia sambil kugoyang-goyangkan kepalanya kedepan dan kebelakang sangking kesalnya diriku yang masih belum pulih dari shock akibat perbuatannya.

“Ahahahaha…ohok!..ohok! ampun haha! Ampun! Iya..iyaa..ampun hahaha”

“Mati kau MEI MEEI…!!” jeritku kesal. Walaupun akhirnya kulepas tanganku dari lehernya. Ternyata anak perempuan kurang ajar ini yang sudah bikin aku malu karena hampir pipis di celana sangking kagetnya. Matanya yang sipit hampir hilang karena masih menahan tawanya. Kulitnya yang putih seperti susu itu pun sudah menjadi merah karena puas menertawaiku.

“Hahaha…iya maap ya bos! Haha” ulangnya. “Makanya kalo jalan sendiri di kebun orang jangan bengong sambil senyum-senyum sendiri…dikira orang gila nanti” sambungnya lagi, sambil berlalu meninggalkanku menuju kearah saung yang terbuat dari papan-papan rapuh di tengah-tengah kebun singkong yang sudah tinggi-tinggi pohonnya itu.

“Eh! Mau kemana Mei? Belum kelar urusan kita!” Aku mengejarnya dari belakang. Mei seperti biasanya dengan celana training biru selutut serta kaos merah bergambar komik Pangeran Menjangan  berlari kecil mendahuluiku. Seandainya ia tidak berambut panjang dan tidak berwajah cantik, barang tentu orang tidak akan menyangka kalau ia anak perempuan. Perilaku super lincahnya yang sudah seperti cacing kepanasan itu yang kadang bikin aku kesal. Yah walaupun kenyataannya dia tukang bikin masalah di sekolah dengan anak-anak kelas 5 yang badannya besar-besar, dan akhirnya menangis dan minta bantuanku—ini sih yang paling bikin repot—setidaknya ia tidak ribet seperti anak perempuan kebanyakan, dan seru untuk diajak main. Saat sampai di saung ternyata di sana sudah ada Mas Tri menunggu sambil berjongkok bertelanjang dada, hanya menggunakan celana pendek berwarna coklat dan mengelus-elus Si Joko—ayam jago kesayangan Mei.

“Oi Mas…aku baru mau ke rumahmu padahal” ucapku. Sambil ikut berjongkok walaupun tidak ikut mengelus Joko.

“Jeritanmu kuat juga Im…Si Joko sampai hampir bisa terbang tadi” ejeknya dengan senyum lebar memamerkan gigi putihnya kepadaku. Mas Tri dan Mei pun tertawa puas setelah bertukar pandangan, tak peduli dengan wajah kesalku.

“Kalian…lihat saja, kubalas nanti. Apalagi kau Mei Mei, jangan datang kepadaku lagi kalau kamu nanti nangis karena sesuatu.” Gerutuku kepada mereka.

“Oi Ibrahim…kan aku udah bilang gak suka dipanggil Mei Mei! Namaku Tifanny Maheswari tau! Lagian nama Cinaku kan Mei Xiu bukan Mei Mei.” protesnya kepadaku. Ia langsung mengambil Si Joko dari Mas Tri dan menggendongnya ke atas saung. Badannya yang 1 cm lebih tinggi dariku itu masih terlihat kesulitan menggendong ayam jago besar. Masih tidak habis pikir juga aku, kenapa ada anak perempuan sukanya main sama ayam jago ketimbang main lompat tali atau main BP. Si Joko memang terlihat sangat keren dengan warna bulu lehernya yang oranye dengan bulu-bulu hitamnya yang mengkilap menutupi tubuhnya yang kekar. Sudah sering ada tetangga yang menawar Si Joko kepada Ko Jimmy karena dianggap ayam jago unggul. Tapi anaknya—Mei alias Mei Mei alias Mei Xiu alias Tifanny—kekeuh tidak mengizinkan menjual Si Joko dan akan menangis kalau ayahnya ketahuan ingin menjualnya. Bahkan ia pernah menangis sejadi-jadinya karena mendengar kabar kalau Si Joko di tawar Pak Haji Husein dan ayahnya tertarik melepasnya. Walaupun akhirnya Si Joko berhasil tidak dijual, dan masih bersama pemiliknya yang setia.

“Kan kau juga sering memanggilku Aim! Padahal namaku Ibrahim.”

“Kan itu biar pendek tau…susah memanggilmu kalau lengkap”

“Ya tapi kan Mei itu tetap saja…..”

“Ssssst! Udah-udah kalian” Mas Tri menghentikan perdebatan kami “Lagian toh ndak ada yang salah dengan nama panggilan Mei Mei dan Aim” sambungnya. “Eh…aku dapat sesuatu kemarin, ke rumahku ayok” tanpa menunggu respon dari kami dia langsung berjalan menuju rumahnya dan meninggalkan aku berdua dengan Mei Mei yang masih ingin berdebat namun akhirnya menyerah untuk mengikuti dia ke rumahnya. Aku pun sudah lupa untuk memamerkan kelereng susu yang sudah kubawa di saku celana sebelah kanan. Akan ku perlihatkan nanti saja setelah melihat sesuatu yang ingin diperlihatkan Mas Tri kepada kami.

“Yok masuk…eh, Ibrahim cuci kaki dulu sana, tuh di keran samping” perintah Mas Tri kepadaku.

“Iiih…dasar anak kampung gak pernah pakai sendal. Weeek!” Dengan menjulurkan lidah Mei mengikuti Mas Tri ke dalam rumah.

“Kau juga anak kampung…dasar Mei Mei” ucapku pelan sambil membersihkan kaki-kakiku yang kotor. Aku memang lebih suka tidak pakai sendal kalau bermain-main keliling kampung. Karena lebih praktis, bisa langsung memanjat pohon jambu atau rambutan, berlari pun bisa kencang. Aku gosok kakiku sampai bersih dari tanah, lalu ikut masuk kerumah Mas Tri.

“Im…di sini!” jerit Mas Tri dari belakang rumah.

            Aku mengikuti suaranya ke ruang belakang, di dapurnya yang masih sangat tradisional. Masak pun masih menggunakan kayu bakar, tembok dapurnya tidak bertembok bata seperti rumah utama, namun masih dari anyaman bambu dan beratapkan daun kelapa kering yang ditumpuk-tumpuk rapi. Aku ke pojok dapur tempat mereka berdua memandangi sebuah kotak kecil dibentuk dari bambu. Dengan membusungkan dada dan senyum lebarnya Mas Tri memperlihatkan isinya kepadaku tanpa membuka kotak tersebut

            “Nih jangan dibuka, kabur nanti,” sambil menunjuk ke arah celah-celah kecil bambu itu “aku kemarin dapat ini di dekat rumah Bidan Sulis.”

            Aku dan Mei—yang masih menggendong Joko—memincingkan mata kami dan melihat dua buah jangkrik di dalam kotak bambu itu. Setelah memastikan itu jangkrik, aku langsung menjadi gembira seakan jangkrik itu tangkapanku sendiri. Ada dua jangkrik, yang satu hitam besar, dan satunya lagi masih kecil dan berwarna coklat muda.

            “Ini dapat dari satu sarang Mas?” tanya Mei yang menanyakan apa yang aku ingin tanyakan juga.

            “Iya satu sarang, dapat induk sama anaknya sekaligus hehehe,” jawabnya bangga. “Tapi mau aku lepaskan sekarang di lapangan” sambungnya lagi.

            “Hah! Kenapa Mas?!” protesku saat mendengar rencananya yang cukup aneh. “Sudah susah-susah ditangkap kok malah mau dilepas, jangkriknya bagus-bagus lagi, kita piara sajaaa.”

            “Ndak ah im…masih kecil, kasian kalau masih kecil udah ditangkap begini. Lagian kita ndak tau gimana cara merawatnya kan. Ndak tau gimana cara ngasih makannya, atau mandiinnya” ucapnya sambil bercanda.

            “Yeee dikira Si Joko harus dimandiin setiap hari” protes Mei.

            “Iya Mas, sayang nih tangkapan besaar! Aku aja enggak dapat-dapat sampe keju nih kaki jongkok lama”

            “Hahaha…kamu saja yang ndak sabaran Im. Ayok ke lapangan sekalian bawa sapu lidi tuh, udah mau sore, capung bakal banyak, bisa kita tangkap yang warnanya bagus-bagus!”

            Mas Tri pun memberikan aku dua sapu lidi yang sudah patah-patah ujungnya dan berwarna coklat kehitaman dan memberikan satu lagi sapu lidi yang masih baru dan masih berwarna hijau kecokelatan kepada Mei. Barang tentu aku tidak protes karena sangat tidak jantan untuk menggunakan sapu lidi yang lebih bagus, dan Mei—yang perempuan—menggunakan yang jelek. Hah!. Kenapa pula aku harus mengalah mendapatkan sapu lidi yang jelek. Toh Mei kan sudah lincah seperti laki-laki, tidak lemah seperti teman-teman perempuanku yang lain. Tapi kalau aku memaksanya menggunakan sapu yang jelek, aku akan di cap anak laki-laki yang tidak jantan. Dan kalau tangkapanku lebih sedikit dari Mei karena sapu lidiku jelek aku akan diejek habis-habisan.“Huh!” Dengusku sebal.

            “Mei, tinggalkan saja Joko di sini, mamakku kan sudah hafal ini ayam milikmu, ndak akan ia potong saat pulang dari ladang nanti hehe” canda Mas Tri. Ia pun segera mengambil kaus putih yang bergambar jagung dan bertuliskan BISI 2 yang tergantung di sebelah celurit dekat pintu masuk dapur untuk dikenakannya.

            Aku yang sudah membawa senjata sapu lidi langsung berlari keluar meninggalkan Mei yang mengikat Si Joko di Pojok dapur dan Mas Tri yang sedang mengambil layang-layang dari kamarnya. Walaupun aku masih heran dengan tingkah Mas Tri yang ingin melepas jangkrik hasil tangkapannya. Kalau saja itu aku yang dapat, sudah barang tentu aku pelihara sampai si anak jangkrik menjadi dewasa dan mengembang biakkannya di rumah.

            “Hoi..!!”

            Untuk kedua kalinya hari itu aku di kagetkan orang, ingin aku pukul rasanya orang itu dengan sapu lidi yang ku pegang.

            “Ngapain le bengong depan pintu” tanya Pakde Sugi yang mengagetkanku sesaat tadi. Yang membuatku mengurungkan niat untuk memukulnya dengan sapu lidi.

            “Wes bali pak? Mamak ndi?” tanya Mas Tri dari dalam rumah.

            “Hooh, ngeleh aku, mamakmu di warung mbak Wati, tuku royco” jawabnya sambil masuk kerumah. “Eh…ada Fanny, pada mau ke lapangan ya? Jangan magrib-magrib pulangnya ya, nanti dimarahin ayahnya lagi” sambungnya lagi sambil berlalu ke dapur untuk minum.

            “Hehehe…iya Pakdee,” jawab Mei malu-malu “tolong jagain Joko di dapur ya Pakde. Jangan sampe dipotong!” sambung Mei, dan langsung kedepan bergabung denganku dan Mas Tri setelah mendapat isyarat jempol dari Pakde Sugi yang minum langsung dari mulut teko air—tanpa menyentuh mulut—yang pernah aku coba sekali, malah bikin basah seluruh tubuh dan aku putuskan tidak akan pernah mencobanya lagi.

            “Paak…pergi dulu! Assalamu’alaikum!”

            “Wa’alaikumsalaam!” jawab Pakde Sugi.

            Kami akhirnya berangkat ke lapangan desa yang tidak jauh dari rumah. Hanya berjarak sekitar 7 rumah dan berada di pojok sebelah kanan ujung pertigaan jalan aspal, tepat di sebelah gedung SD kami bertiga yang berposisi tusuk sate dengan jalan raya. Jalanan aspal yang kami lewati sudah banyak kotoran sapi dari gerobak-gerobak sapi yang mengangkut rumput dan hasil ladang. Jadi kami harus ekstra hati-hati saat berlari-lari—khususnya aku yang tidak menggunakan sandal—agar tidak menginjak ‘ranjau’ kotoran sapi. Saat baru berjalan sebentar ternyata ada Mas Kusno sedang membawa gerobak sapi dengan muatan penuh rumput dan daun singkong untuk pakan kambing. Kami pun minta izin menumpang hingga pertigaan jalan. Aku sangat suka naik gerobak sapi, jalannya yang santai membawa muatan sambil mulutnya terus mengunyah enak di waktu sore-sore begini sewaktu angin semilir lewat. Aku dan Mei duduk di samping Mas Kusno yang memegang tali kendali dan Mas Tri berdiri di sampingku hanya berpegangan pada gerobak dan kakinya berada di kayu penyangga yang tersambung ke leher sapi karena tempat duduk kami tidak cukup untuk 4 orang.

“Im…tau gak kenapa aku mau melepas jangkrik ini padahal baru aku tangkap?” tiba-tiba menanyakan hal itu padaku yang juga didengar oleh Mei.

“Karena aku tadi pagi ndak sengaja membaca buku cetak IPA SMP kepunyaan Mbak Nur tetangga sebelah rumahku,” ia langsung menjawab tanpa memberi aku kesempatan untuk bertanya kenapa, “Dan di buku itu Mas membaca tentang makhluk hidup yang ternyata saling membutuhkan. Ndak ada satupun makhluk hidup di dunia ini yang tidak bermanfaat, salah satunya jangkrik yang Mas bawa ini.” Sambungnya lagi.

“Manfaat jangkrik kecil begitu emang apaan Mas?” tanya Mei yang aku juga penasaran akan jawabannya.

“Kalian tahu kan kalau desa kita ini melimpah ruah hasil ladang? Hampir seluruh orang desa ini menggantungkan hidup dari bertani seperti Bapak dan Mamakku. Itu saja Ayah kalian yang PNS dan pedagang toko di pasar di luar hitungan. Sedangkan hal itu ndak akan bisa di temukan di perkotaan yang sudah padat rumah-rumahnya dan penuh pabrik-pabrik serta kendaraan yang lewat karena tanah untuk bercocok tanam sudah habis, dan pohon-pohon pun sudah tinggal sedikit.” Aku dan Mei masih diam menyimak walaupun kami masih belum bisa menghubungkan ucapannya dengan alasan melepaskan jangkrik. “Jadi jangkrik ini adalah salah satu dari banyak hewan yang memiliki fungsi untuk menyuburkan tanah kita, dan juga bukti bahwa tanah desa ini masih gembur dan subur karena mereka masih dapat membuat sarangnya di sini.” Dari sini kami mulai mendapat gambaran yang jelas arah tujuan kata-kata Mas Tri.

“Jadi…kalau masih ada jangkrik, tandanya desa ini masih subur, begitu Mas?” Tanyaku tidak sabar mencapai kesimpulan ucapannya.

“Hmm…ndak hanya jangkrik sebenarnya yang menjadi tanda bahwa desa kita masih subur dan sehat, ada cacing tanah, semut, rayap, capung, burung, dan lain-lain lagi” jawabnya.

“Capung? Emang ada hubungannya capung sama tanah subur?” Tanyaku lagi karena semakin bingung.

“Bisa dibilang begitu, capung dan burung itu cuma tanda kalau pohon-pohon di desa kita masih rimbun dan banyak. Jadi udara di desa kita juga masih bersih karena banyaknya pohon, makanya kalian harus bersyukur tinggal di desa yang rimbun ini, setiap sore ada ratusan capung warna-warni yang bisa kita tangkap di lapangan, jangkrik yang bunyi setiap malam. Itu tandanya kita hidup di desa yang sehat.” Jelasnya lagi kepada aku dan Mei.

“Iya bener tuh, aku kalau pergi ke kota untuk belanja barang-barang toko sama Ayah, udah hampir enggak ada capung yang terbang sore-sore di lapangan. Ada sih…tapi sedikit banget, enggak kayak di lapangan kita ini.” Tambah Mei.

“Tuh, benar…karena di kota sudah penuh rumah-rumah dan gedung-gedung tinggi,” lanjut Mas Tri “pohon pun sudah ndak banyak, makanya penyakit orang kota itu aneh-aneh hahaha” sambungya lagi sambil tertawa yang di balas tawa aku, Mei, dan Mas Kusno yang ternyata sejak tadi menyimak pembicaraan anak-anak kelas 3 dan 4 SD ini.

Akupun menjadi berpikir agak dalam—hal yang jarang aku lakukan—membayangkan kalau setahun atau dua tahun lagi kampung ini sudah tidak ada capung-capung dan jangkrik. Kasihan sekali adik-adikku, tidak bisa bermain seperti kami lagi, tidak bisa memanjat pohon jambu liar lagi yang sudah habis ditebang, tidak bisa berlari-lari dengan sapu lidi untuk menangkap capung lagi. Eh, menangkap capung?!

“Tunggu Mas! Kalau begitu kita jangan menangkap capung dong, kan capung itu tanda kalau desa kita masih sehat, kan?” tanya ku buru-buru yang beberapa saat lalu sempat tenggelam di alam pikiran sendiri.

“Ahahahaha…emang kamu bisa dapat berapa capung eh Im?” tanyanya sambil mengejek. “Aku kan tau kamu paling maksimal juga dapat dua capung saja, segitu sih ndak sampai membahayakan populasi capung di desa. Yang membahayakan itu kalau kita sampai merusak tempat tinggalnya” timpalnya lagi.

“Oh hehe…kirain Mas. Terus kalau dua jangkrik juga enggak bakal masalah kan harusnya Mas, kenapa harus dilepas?” tanyaku lagi malu-malu.

“Ini karena bukan jangkrik biasa Im…Tapi ini induk sama anaknya. Kan kasian kalau masih anak jangkrik harus ditangkap dan keluar dari sarangnya, hidupnya masih panjang dan kedepan bisa berkembang biak lebih banyak lagi. Kalau seandainya ini dua jangkrik dewasa mungkin masih aku simpan di rumah.” jawab Mas Tri dengan lugas.

Dasar anak jangkrik, untung saja kamu bertemu dengan Mas Tri yang paham pentingnya dirimu. Kalau tidak, sudah barang tentu kamu jadi peliharaan selamanya dan berakhir jadi makanan ayam atau burung.

Kami akhirnya sudah sampai di pertigaan jalan. Setelah berterimakasih kepada Mas Kusno, kami bertiga manuju lapangan yang sudah ramai anak-anak bermain layangan, kejar-kejaran, ataupun menangkap capung seperti yang ingin aku dan Mei lakukan. Mas Tri yang langsung ingin menerbangkan layangannya meminta tolong bantuanku untuk memegangi layangan sambil ia mengambil jarak dan ancang-ancang untuk menariknya agar layangannya dapat melayang. Tidak  menunggu lama untuk membuat layangannya terbang jauh mengangkasa. Selagi Mas Tri memandangi layangannya yang sudah terbang tinggi sambil duduk santai di tengah lapangan dan memegangi ujung benang satunya yang diikatkan pada bekas kaleng susu krim, aku dan Mei melakukan perburuan kami di sekeliling lapangan. Capung yang sangat banyak sore ini sebenarnya membantu kami untuk mudah menangkapnya. Namun kecepatan manuver si capung-capung indah ini mambuat kami harus ekstra cepat dalam memukulkan sapu lidi ke tanah. Tidak lama aku mendapatkan capung yang indah, ia tidak terlalu besar namun berwarna biru, aku menyebutnya capung langka, karena jarang capung berwarna biru. Lalu Mei pun berhasil mendapatkan capung yang sangat besar dan berwarna hijau bergaris-garis hitam. Saat aku sedang tertawa  melihat Mei yang sedang loncat sana loncat sini seperti anak jago Kung Fu untuk menangkap capungnya, aku memperhatikan Mas Tri yang meninggalkan pos layangannya dan duduk berjongkok membelakangi lapangan yang kuduga sedang melepas sang anak jangkrik. Selamat jalan anak jangkrik, jaga desa kami ya, semoga keturunanmu akan terus hidup bersandingan dengan adik-adik kami di masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s