Curhat: Kartini Hanya Simbol!

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776

Gue sebenernya gak terlalu tertarik untuk nulis soal Kartini diblog ini. Karena menurutku gue pribadi sih Kartini terlalu di kultuskan dan di puja terlalu berlebihan oleh orang Indonesia, seakan hanya beliau tokoh feminisme pada masa Hindia Belanda. Tapi karena gue baca artikel yang ditulis Arzia Tivany Wargadiredja di website VICE Indonesia (link bisa cek disini) tangan gue jadi gatel pingin ikut-ikutan ngasih opini ehe. Disitu doi nyeritain gimana kok bisa jadi benci dengan segala macam tetek bengek perayaan Hari Kartini sejak masa sekolah. Artikel nya sih bagus banget, dan sebagian besar isinya gue sih sepakat-sepakat aja, tapi disini ada kesalahan fakta yang harus diluruskan keknya biar enak aja sama Almarhumah R.A. Kartini kalo ketemu di Padang Mahsyar—-buseet!.


1. Kartini bukan pendiri sekolah wanita pertama di Hindia Belanda/Indonesia

Yup! dengan mengutip kata-kata Maesy Angelina yang ngomong “orang tahunya kan imej Kartini membuat sekolah pertama untuk perempuan” didalam artikelnya, mbak Arzia ini secara gak langsung sudah ngasih tau kita kalo dia emang bener-bener belum tau siapa tokoh sebenarnya pendiri sekolah wanita pertama di Hindia Belanda. Siapa dia? Jreng…jreng…jrreeeng dia adalah Raden Dewi Sartika. Singkatnya Dewi Sartika mendirikan sekolah perempuan pertama kali itu tahun 1904 di Pendopo Kabupaten Bandung, sedangkan R.A. Kartini meninggal dunia pada tanggal 17 September 1904 di umurnya yang belia, 25 tahun. Namun, sebelum ia meninggal, ia sudah berniat membangun sekolah wanita di Rembang dengan dukungan penuh suaminya yang merupakan Bupati Rembang.

2. Kartini tidak pernah mendirikan sekolah wanita selama masa hidupnya

Menyambung dan mendukung fakta nomer 1, Kartini School yang berdiri di Semarang tahun 1912 yang “dipercayai” sekolah bentukan Kartini itu sebenernya adalah bentukan tokoh politik etis Belanda sekaligus Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda yang bernama Conrad Theodore van Deventer melalui Yayasan Kartini yang ia dirikan pada tahun yang sama.

3. Kartini tidak berpaham liberal ataupun radikal. Eeee….radikal, bahaya bom bunuh diri tuh!

Kartini pada tahun 1903 (umur 24) memutuskan menikah dengan Bupati Rembang dan menolak tawaran teman-teman Belandanya untuk dapat melanjutkan pendidikan di Betawi dalam penggalan suratnya ke sahabat penanya Nyonya Abendanon: “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…“.

Dalam penggalan surat itu Kartini dapat dikatakan telah berdamai dengan ego masa mudanya sebagai wanita priyai terdidik. Hal itu dikarenakan ia melihat kesempatan dirinya dalam mewujudkan cita-cita untuk mendirikan sebuah sekolah perempuan akan lebih terbuka dengan menikahi Adipati Rembang yang mendukung penuh rencananya. Namun disayangkan sebelum hal itu terwujud R.A. Kartini telah meninggal dunia pasca melahirkan anak pertama dan terakhirnya.


Nah itu 3 fakta yang menurut gue penting untuk di ketahui oleh masyarakat Indonesia, terkhusus wanita Indonesia agar mulai sadar dan tidak buta akan sejarah. Bukan menghardik Kartini bahwa dia gak pantas menyandang tokoh emansipasi wanita, tapi lebih ke greget aja pingin ngasih tau fakta sebenarnya sesuai validitas ahli sejarah.

Dan untuk hari emansipasi wanita, gue sepakat Kartini menjadi namanya, karena beliau memang termasuk wanita-wanita berpikiran modern pada masanya. Beliau memiliki semangat untuk meningkatkan strata sosial wanita Indonesia, khususnya wanita Jawa yang pada jamannya hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dan untuk wanita-wanita dengan cap radikal mungkin cap itu lebih pantas untuk disandang oleh Cut Nyak Dien dari Aceh & Martha Christiana Tiahahu dari Maluku. Cut Nyak Dien memimpin peperangan rakyat Aceh melawan pasukan kolonial Belanda selama 25 tahun setelah kematian suaminya Teuku Umar yang merupakan pemimipin pasukan gerilya Aceh. Walaupun beliau akhirnya tertangkap dan meninggal dalam pengasingan, namun selama 25 tahun beliau berhasil membuat pasukan kolonial mengerti bagaimana sulitnya mengalahkan jiwa-jiwa yang merdeka. Selama 25 tahun, walaupun kota-kota di Aceh telah dikuasai, berbekal semangat Jihad untuk mengambil kembali tanah kelahiran, bergerilya hidup dalam hutan-hutan Sumatra, Cut Nyak Dien telah berhasil menggores lembaran sejarah Indonesia menggunakan pisau dan darah para pejuang Aceh, bahwa wanita-pun mampu menjadi panglima perang selayaknya seorang pria. Dan Martha Christiana Tiahahu, bila kita semua sudah tidak asing dengan pahlawan nasional Kapitan Pattimura, seorang pejuang dari Maluku yang namanya sudah menggema keseantero negeri, maka hal itu tidaklah lengkap tanpa menyebut nama seorang pejuang wanita dari Timur Indonesia yang gagah berani bak seorang raksasa, Martha Christiana Tiahahu. Beliau bergerilya sebagai kelompok pasukan pendukung dari pasukan utama Kapitan Pattimura sejak umur 17 tahun. Walau masa hidupnya yang sangat singkat (18 tahun), jiwa merdekanya telah membakar darah-darah muda para pahlawan revolusi Indonesia untuk melawan penjajahan. Bagaimana beliau menggunakan kayu atau batu untuk melawan pasukan kolonial ketika kehabisan amunisi, bagaimana ia tetap melawan walaupun sudah tersandera, tetap melawan di waktu-waktu sekaratnya di Laut Banda, tetap melawan hingga nafas terakhirnya. Itulah yang disebut jiwa yang sudah merdeka tidak akan pernah bisa ditindas walaupun tubuh hancur menjadi abu. Merekalah yang pantas mendapat gelar RADIKAL. Ya. Radikal terhadap sistem kolonial dan imperialisme. Kartini? Liberal maybe. Radikal never.

Kartini adalah simbol dari pertarungan batin wanita Indonesia yang tertindas dimasanya. Kartini adalah simbol dari galaunya wanita Indonesia, khususnya wanita Jawa yang hanya bisanya enggeh…enggeh bila disuruh laki-laki pada zamannya. Kartini adalah simbol bahwa wanita berhak mendapat pendidikan yang sama dengan laki-laki. Tapi apakah Kartini melawan “kodrat” nya? Tidak. Dia tetap menikah, menjadi istri dan ibu, namun dia tetap berhasil meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa cita-citanya sangatlah mulia dan harus diwujudkan.

Jadikan Kartini sebagai simbol dari wanita-wanita perkasa Indonesia yang terbang bebas layaknya Garuda. Tapi apakah Garuda melawan kodratnya? tak makan kah dia? tak kawin kah dia? hanya terbang membawa wisnu diatas punggungnya selama hidupnya? Itulah yang dimaksud dengan emansipasi dengan tetap sesuai kodrat. Di dunia tidak akan pernah ada namanya KESAMAAN, yang kita perjuangkan adalah KESETARAAN. Menjadi wanita yang sadar akan kodratnya dan menuntut kesetaraan adalah hal yang wajib. Namun bila menuntut kesamaan, bahkan bentuk sempak kita juga udah beda keleus…..kalo mau disamain, kasian yang cowo-cowo pada kejepit ehe.

Dahlah gitu aja, mudah-mudahan yang baca ini dapet pencerahan walopun cuma sedikit. Sedikit kesel, sedikit bingung, sedikit males, sedikit ngantuk juga gapapa haha.

Mudah-mudahan Kartini terus menjadi simbol akan semangat dari wanita-wanita Indonesia. Menjadi simbol dari perjuangan Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahua dan seluruh pejuang wanita di Indonesia. Menjadi simbol. Ya, hanya menjadi simbol. Simbol Emansipasi.

Jadikan Kartini hanya simbol.

Advertisements

2 thoughts on “Curhat: Kartini Hanya Simbol!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s