Curhat: Aktivis Sastra

Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun setiap abad, pemuda terus dan terus berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil hanya karena dilandasi kesamaan visi. Membentuk komunitas-komunitas berlantai ideologi beratapkan mimpi, berkumpul berdiskusi  bagaikan virus menyalurkan ide-ide penuh semangat ke setiap anggota kelompoknya. Aktivis katanya. Menyuarakan hak-hak rakyat kecil jeritnya.

Tidak sedikit pemuda yang berteriak lantang bagaikan suara gemuruh halilintar  ketika mengutarakan aspirasi—yang menurutnya mewakili keadilan—telah menjadi korban. Korban nyawa, korban harta, korban keluarga.

Rela meninggalkan ruang belajar formal sejenak untuk panas-panasan, menjerit-jerit didepan gedung-gedung tinggi menjulang hingga suara serak. Ingin jadi Sukarno muda pikirnya.

“Bertahun lalu..ketika tirani mengekang, kami berhasil mendobraknya lewat aksi”. Ungkapnya sambil bernostalgia.

“Aksi apa?” tanyaku.

“Yaaa aksi, demo 48” jawabnya, sambil matanya terus menatap tembok warna krem polos diruangan yang penuh asap rokok itu.

Tapi tidak sedikitpun kulihat hasil aksi itu di perawakannya. Biasanya yang benar-benar berani melawan tirani kan kalau tidak korban nyawa, korban harta, atau korban keluarga. Yaaah minimal ada luka sedikit lah yang jadi tanda-tanda pernah bertarung langsung di medan “perjuangan”. Atau pernah di culik, hingga hilang dari masyarakat mungkin.

Tapi faktanya yang hilang rata-rata penulis. Seorang yang tidak cuma turun aksi tapi yang bertarung lewat tinta-tinya nya. Entahlah.

Hari ini, aksi disepelekan, dihina, dan tidak diperdulikan lagi oleh masyarakat. Kenapa? Apa karena sudah bukan zamannya? Entahlah…

Tapi masih enak aksi demo mendapat perhatian. Aksi penyair, penulis, sastrawanlah umumnya hingga budayawan bahkan dianggap seperti angin lalu.

“Masyarakat kesal dengan aksi demo, bikin macet!!” kata Kang Aan penjual lontong kari yang setiap pagi lewat sekretariat kami. Sangat kontras dengan masa lalu yang seluruh rakyat mendukung. Apa benar sudah bukan zamannya?? Duh, makin entahlaaah…..

Mungkin hal ini terjadi karena pemuda terus berjejal ingin menjadi Sukarno muda yang pandai berorasi. Yang pandai mengikat hati rakyat dengan teriakan lantangnya “MERDEKA!”. Bahkan pemuda paling bebal pun sudah dapat melakukannya. Kereta Sukarno muda sudah penuh sesak dengan pemuda-pemudi yang berjejal-jejalan dalam satu gerbong. Mungkin itu yang bikin rakyat bosan. Mungkin.

Padahal aku ingin sekali kembali dimasa dimana tidak hanya gerbong Sukarno muda yang penuh sesak. Bagaimana dengan gerbong Chairil Anwar muda, gerbong Buya Hamka muda, gerbong Pram muda, ataupun gerbong Rendra muda?. Aku ingin kembali dimana tulisan dan syair memiliki dan mendapatkan perhatian yang sama dalam masyarakat.

Mungkin rakyat sudah lelah menunggu macetnya jalan karena demonstrasi. Mungkin masyarakat sudah muak mendengar teriakan pemuda yang serak tidak beranda, tidak berirama, tidak bersajak.

Masyarakat “kurang piknik” kalau kata kang Emil.

Berarti bukankah ini saatnya kita memberikan masyarakat yang “kurang piknik” ini sebuah hiburan?. Hiburan yang tetap menyerukan keadilan. Hiburan yang mengangkat masalah-masalah sosial di sekitar. Hiburan yang dapat membuat para “tikus-tikus” birokrat kebakaran jenggot! Hah!. Hiburan yang membuat para tiran seperti ditampar wajahnya.

Mungkin ini saatnya sajak-sajak indah mengalun rendah di jalan-jalan kota yang panas, demi mengingatkan, bertanya, meminta tanggung jawab,

dan MENUNTUT!

Mungkin ini saatnya cerpen dan esai-esai satire membanjiri tanah air. Seperti dahulu kala. Ketika mulut dibungkam, pena masih bisa menggores. Suara bisa hilang, kata bisa dihapus, buku bisa di bakar, namun ide terus dan terus akan berlipat ganda dan bergerilya.

Bangkitlah aktivis sastra!!!

Advertisements

4 thoughts on “Curhat: Aktivis Sastra

  1. Emang gak ada ya semacam forum online ato facebook group ato apaaaa gitu buat kalian sastrawan? Kayak kalo kami yg di dunia software developer tuh banyak banget forumnya

    1. Setahu saya pribadi belum ada.
      Yang ada komunitas-komunitas kecil disetiap daerahnya/universitas. Banyak, tapi tidak terorganisir menjadi satu kesatuan. Dan masih terkonsentrasi di kampus-kampus yg punya jurusan Sastra. Btw saya sendiri anak teknik yang kesasar suka sama sastra, soo…info seperti forum online mungkin saya saja yg belum tau hehe

  2. Hmm bener juga ya… Cuma realitanya, yg gampang disebar di sosmed ya berita dan ajakan politik. Mungkin… Mungkin kalian yg sastrawan bisa bikin gerakan semacam bersih2 timeline tp dg share hal2 sastra? Idk. Just thinking out loud

    1. Kesalahan pertama kita, khusus nya saya pribadi adalah dulu ketika bicara sastra hanya berkutat soal cinta. Kita lupa kalau pemimpin-pemimpin, jendral-jendral dimasa lampau menggunakan syair-syair gak cuma untuk goda gadis-gadis, tapi juga untuk masalah taktik perang, politik, hingga masalah ranjang. Holy Bible dan Holy Quran sendiri adalah sebuah sastra—yang di imani oleh pengikutnya—ciptaan Tuhan untuk manusia. Sastra harus masuk kedalam setiap sendi permasalahan sosial bangsa, karena sastra melembutkan, maka ajakan politik itu sendiri yang berapi-api akan lebih sejuk terasa. Opini saya pribadi sih PR nomer 1 kita semua sebenernya bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia yang udah terlanjur kaku ini jadi lembut lagi, salah satunya dari banyak cara adalah menggunakan karya2 sastra yang segar 🙂
      Tapi kmengutip yang saya tulis di atas……”Entahlaaah” hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s