Curhat: MAY DAY! MAY DAY!

01 Mei 2016, Viva La Proletarian!!

“Untuk mengenang Marsinah & Salim Kancil serta para pejuang kesejahteraan buruh di seluruh dunia”

Mayday

Rakyat kota ketar-ketir, malas untuk keluar, menghindari jalan raya, menghindari lewat gedung-gedung pemerintahan.

“macet mas pasti, mending di rumah”. Begitu jawaban dari teteh-teteh necis di sebelah saya waktu lagi beli paracetamol di Apotek dekat rumah.

Mungkin dibenaknya setiap tanggal 1 Mei merupakan sebuah siksaan berat untuk harus beraktivitas di luar rumah. Harus menghindari ribuan buruh yang menggelar aksi demo di berbagai titik di pusat kota. Buruh dapat menggelar aksi dengan berbagai cara, dari ramai-ramai dangdutan diatas mobil bak terbuka, touring ratusan motor dengan membawa panji-panji organisasinya, hingga yang melakukan aksi teatrikal di depan gedung-gedung pemerintahan. Hal ini tentu akan mengganggu nya aktivitas sebagian besar masyarakat yang tinggal di perkotaan. Dari yang ingin bekerja, ingin ke kampus, ingin belanja, ingin jemput pacar, ingin jalan-jalan, semua merasa kesulitan dan harus mencari rute lain yang tidak kena dampak aksi buruh. Upah Minimum Regional (UMR) yang menjadi masalah setiap tahunnya terasa sudah tidak lagi jadi masalah, semenjak beberapa tahun lalu pemerintah sudah meningkatkan UMR di seluruh Indonesia. Namun Undang-undang Ketenagakerjaan yang dirasa masih merugikan para buruh terus menjadi tuntutan mereka di setiap aksinya.Seperti halnya Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 (pasal 56,64,65,66) yang mengatur dan menetapkan sistem kerja kontrak/outsource yang di inginkan oleh buruh untuk di hapuskan. Kesehatan serta pendidikan gratis untuk para masyarakat kecil pun menjadi tuntutan mereka setiap tahunnya.

Mengingat perjuangan, menunjukkan eksistensial, dan untuk menjadi manusia seutuhnya, mungkin itu lah yang menjadi landasan para buruh untuk terus melakukan tradisi aksi-aksi peringatan Hari Buruh Internasional atau yang kita kenal dengan May Day setiap tanggal 1 Mei. Namun sangat disayangkan ada beberapa kelompok buruh yang memanfaatkan momen ini untuk menuntut lebih. Permintaan-permintaan tidak wajar yang diinginkan, seperti televisi, kulkas, hingga AC, menjadi hal yang merusak nilai pokok yang ingin dicapai dari May Day sendiri. Kaum proletar saat ini yang mendapatkan apa yang sudah dicita-citakan dan diperjuangkan oleh pendahulunya  sejak dulu seakan melupakan setiap keringat dan darah perjuangan mereka. Ingin menjadi lebih makmur dengan tuntutan-tuntutan yang merupakan kebutuhan tersier, bukan kebutuhan primer ataupun sekunder. Mungkin ini lah yang menyebabkan mereka ini bisa dibilang bukan merupakan buruh yang cerdas. Karena sifat mereka yang sudah haus akan tuntutan-tuntutan mewah terkadang malah menjadi bumerang bagi kaum proletar sendiri. Dimana para buruh yang seperti itu akan lebih rentan akan suap dan menjadi tidak loyal dengan golongannya selama mereka di suapi kemewahan oleh para kaum kapitalis. Hal itu juga lah yang mungkin menyebabkan Kepala Desa Selok Awar-awar Hariyono tega untuk menyiksa Salim Kancil–anggota Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pasir Selok Awar Awar–dengan cara di setrum dan dipukul dengan pot bunga hingga tewas. Tidak hanya Salim kancil korbannya, namun juga Tosan–sahabat Salim Kancil sekaligus anggota Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pasir Selok Awar Awar–yang disiksa dengan cara dilindas dengan motor berkali-kali hingga kritis, hanya karena menolak penambangan pasir di desanya karena berdampak buruk bagi lingkungan desa. Seorang Kepala Desa yang dengan mudahnya disuap oleh mafia hingga tega melakukan tindakan kejam adalah bukti bahwa kaum proletar yang cerdas seperti Salim Kancil dan Tosan menjadi ancaman yang sangat besar bagi kaum kapitalis yang haus kekuasaan. Namun kekejaman terhadap Salim Kancil ini bukan lah pertama kalinya terjadi di bangsa Indonesia yang ‘katanya’ menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila. Pada bulan Mei tahun 1993 sudah terjadi hal serupa yang telah tercatat dilembaran sejarah kelam bangsa ini. Ia adalah Marsinah.

Captaion-Salim-Kancil

Marsinah, sebuah nama yang akan terus terkenang tidak hanya di Indonesia, namun juga di dunia. Marsinah, wanita yang selalu juara kelas yang membangkitkan semangat perjuangan para proletariat Indonesia. Marsinah, seorang murid SMA Muhammadiyah berprestasi yang harus rela menjadi buruh karena tidak memiliki biaya untuk menggapai cita-citanya bersekolah di IKIP yang selalu diimpikannya sejak belia. Marsinah, yang berdosa besar terhadap negara karena percaya pengetahuan dapat mengubah nasib seseorang. Marsinah, yang berdosa terhadap masyarakat karena menyisihkan penghasilannya yang sedikit untuk membeli koran. Marsinah, yang berdosa karena menjadi buruh wanita yang cerdas dan sadar akan fitrah nya sebagai manusia. Marsinah yang berdosa karena sadar bahwa ia dan rekan-rekannya bukanlah hewan perah para penguasa. Marsinah, wanita penuh dosa yang akhirnya di hukum oleh saudara sebangsanya, di tanah kelahirannya sendiri, di bumi yang ia percaya akan melindunginya. Marsinah yang mati dengan tubuh penuh luka siksa, yang mati dengan keadaan lemas karena diseret hingga tulang panggulnya hancur, yang mati bersama kain putih berbercak darah menempel di sela pahanya. Marsinah yang malang. Dibunuh karena ingin membebaskan rekan-rekannya. Marsinah yang malang, hanya karena menginginkan gaji para buruh naik sesuai dengan UMR yang sudah ditetapkan oleh pemerintah saat itu, harus kehilangan nyawa secara mengerikan.

11084139_854416787951527_1142804132786853528_o

Namun Marsinah tidak pernah benar-benar mati, Marsinah telah menjadi ide didalam hati para pejuang dimasa mendatang. Marsinah telah menunjukkan bagaimana untuk tidak gentar dalam memperjuangkan apa yang benar. Marsinah seorang buruh perempuan yang telah menjadi contoh Salim Kancil, Tosan, maupun buruh lainnya untuk terus bergerak menantang arus deras kapitalisme yang menerpa dan menyiksa. Marsinah, telah berhasil membakar hati para kaum proletar untuk terus mengingatkan masyarakat akan ketidakadilan yang telah melanda bangsa ini selama puluhan tahun. Marsinah tidak lah hilang dalam hati rakyat Indonesia, ia akan terus berlipat ganda dan bergerilya. Amin

Begitulah kira-kira yang ada di pikiran saya setelah ngobrol sebentar terkait hari 1 Mei di Apotek dekat rumah. Teteh necis pun sudah pergi, saya pun sudah mendapatkan paracetamol. Terkadang percakapan sederhana dengan orang sekitar dapat membangkitkan ingatan yang cukup kompleks tersimpan di dalam kepala. Ya mudah-mudahan 1 Mei ini tidak menjadi hari yang panas dan macet agar teteh necis dan penduduk kota lainnya–termasuk saya–bisa menghabiskan uang dengan tenang bersama teman-teman sambil nongkrong di Cafe langganan. Dan sekali lagi melupakan perjuangan Marsinah dan kawan-kawan.

Salam Hormat,

Mahasiswa Kapitalis Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s