Curhat: Sastra Sebagai Pendobrak Peradaban

“Tulisan ini merupakan liputan langsung dari kegiatan Komunitas Sajak Suara pada minggu, 24 April 2016”

Poster Bincang Buku

Menulis itu jangan dijadikan beban. Karena sesungguhnya menulis itu menguatkan” –Afrilia Utami.

Kalau tidak berani menulis, maka jiwa kita akan terpenjara selamanya”–Lazuardi Faris.

 

Komunitas Sajak Suara masih terus bergerak dengan komitmennya untuk mencetak penulis maupun penyair yang berasal dari kelompok pemuda. Namun kecenderungan seorang pemuda yang sulit menuangkan idenya dalam tulisan terkadang menjadi penghambat mereka untuk sekedar mulai menulis,sehingga dibutuhkan stimulan khusus untuk membangkitkan keberanian mereka dalam menuliskan buah pikiran mereka. Maka dari itu, pada hari minggu (24/03/2016) di gedung Fakultas Ilmu Terapan Telkom University, Sajak Suara mengadakan sesi Bincang Buku “Halte Biru” karya Afrilia Utami yang dihadiri oleh Afrilia Utami sendiri sebagai pembicara 1  dan juga Lazuardi Faris sebagai pembicara 2 yang berasal dari kalangan aktivis,untuk memberikan wejangan kecil kepada 7 peserta yang hadir saat itu.

Sesi Bincang Buku yang dimoderatori oleh Eling WeningPangestu berjalan cukup khidmat, walaupun para peserta diskusi harus berusaha keras untuk mendengarkan dan menelaah setiap kata dari para pembicara, karena suara hujan yang deras cukup mengganggu pendengaran. Namun itu tidaklah menjadi halangan Afrilia untuk memberikan wejangan-nya kepada para peserta. Dengan suara yang lembut namun tegas, Afrilia dapat dengan gamblang menceritakan bagaimana hidup telah membawanya berkenalan dengan dunia sastra dan menelurkan karya-karya hebat seperti buku antologi puisi ”Halte Biru”.

Wanita kelahiran Tasikmalaya tahun 1996ini, berkecimpung di dunia sastrasetelah iaterlebih dahulu berkenalan dengan dunia jurnalistik saat masih duduk di sekolah menengah pertama. Semenjak itu, ia menjadi jatuh cinta kepada sastra yang terus digelutinya hingga saat ini.Ia menceritakan bagaimana masalah-masalah sosial yang berada dilingkungan sekitar dan masalah dalam lingkup keluarganya lah yang telah membuatnya menjadi wanita yang terus ingin maju dan terus berkarya. Tulisan-tulisannya sebelum menerbitkan “Halte Biru” ternyata sudah banyak di muat diberbagai buku kompilasi maupun surat kabar nasional. Bahkan karyanya yang berjudul Into Gutter to The Sink (Sheel Jagad Tempurung, 2012) sudah diproduksi di Eropa dan masuk Amazon.com—toko online terbesar di dunia.

Halte Biru sendiri merupakan karya yang mengungkapkan segala kegelisahan yang dirasakan oleh Afrilia selama ini. Wanita yang menjadikan Soe Hok Gie, Pramoedya, dan Tan Malaka sebagai penulis favoritnya ini juga mengatakan “banyak anak muda saat ini yang merasa takut dan tidak percaya diri dalam menulis. Pada akhirnya banyak pemuda yang terjebak, dimana yang suka menulis namun malu,akhirnya pemikirannya  hanya tersimpandi dalam kepala dan tidak menghasilkan apa-apa”. Hal yang sama juga dikatakan oleh pembicara kedua, yaitu Lazuardi Faris yang memiliki latar belakang seorang aktivis kampus yang sering melakukan aksi serta kritik-kritik kepada kampus maupun pemerintah Indonesia. Menurutnya sastra dan gerakan aktivis itu hubungannya sangatlah erat, dimana ia menguatkan argumennya dengan mengatakan “contohnya saja revolusi Prancis yang dipicu oleh bait-bait puisi yang membakar semangat para rakyat. Karena memang puisi itu membebaskan”.

184328

Faris sendiri sepakat dengan kata-kata “puisi memainkan kekuatan dari kata-kata” yang diucapkan oleh Afrilia sebelumnya. Menurutnya  puisi itu memang memiliki kekuatan tersendiri dibandingkan bentuk sastra lain. Karena puisi memiliki kekuatan magis yang berasal dari kata-kata sederhana namun dirangkai menjadi sangat kuat oleh penyair, dan memiliki efek yang sangat luar biasa untuk pembacanya. Faris yang secara langsung menyatakan kekagumannya kepada Afrilia mengatakan bahwa seperti ini lah seharusnya emansipasi wanita bekerja. Dimana ia berharap akan adanya Afrilia-afrilia baru di masa mendatang sebagai jaminan bahwa emansipasi wanita yang sesungguhnya memang berhasil. Bukan emansipasi yang membebaskan wanita keluar dari batas-batas kodratnya dan melanggar batas kebebasan individu lain.

Hingga pukul setengah 6 sore bincang, buku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan menarik yang terus datang silih berganti. Membuat peserta sedikit terlena dan hampir lupa waktu. Namun karena batas waktu peminjaman tempat diskusi yang terbatas, maka saat itu pun bincang buku kita akhiri dengan Afrilia yang membacakan salah satu puisinya yang terdapat dalam buku “Halte Biru” miliknya.

 

Penulis: Cahya S. Riyandi

Editor: Eling W. Pangestu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s