Cerpen: The Diary Of The Earth

Bumi 2230, aku seorang pemuda berumur 28 tahun yang bekerja sebagai musisi jalanan. Aku sering mencari nafkah dengan menghibur di pinggiran jalan Bajuristraat—dulu disebut Jl. Sersan Bajuri—di Bandung hingga S Canal Street di Chicago, dari pinggiran sungai Thames di Oxford hingga Stasiun HoverTrain di Medan. Bergerak bebas mencari uang untuk sebuah ketela hangat—sudah tidak ada padi pada masa ini—serta air putih untuk mengisi perut di malam hari sebelum tidur. Aku terus bernyanyi, berpindah tempat ke kota lain, atau benua lain setiap malamnya.  Aku berkali-kali harus lari dari kejaran polisi robot tak berperasaan karena berpindah lokasi menggunakan lubang cacing ilegal, yang pastinya lebih murah dibanding EiROS yang merupakan lubang cacing legal yang sudah disiapkan oleh Dewan Dunia. Bayangkan saja dalam sekali perjalanan EiROS bisa seharga lima kali makan malam ku, tentu saja aku memilih jalan yang lain—lubang cacing ilegal. Lubang cacing ilegal sendiri ada sangat banyak didunia seperti MA’AARIJ buatan para pemberontak dari semenanjung Arab dan Ethiopia, PLAYU.01 buatan para kelompok berandal pemuda Jawa yang menyebut nama kelompok mereka Javach’s dari kepulauan di Micronesia, CHEREZ buatan para mafia dan geng pemuda dari wilayah utara bumi yang dulunya bernama kekaisaran Rusia—ini yang sering aku gunakan, karena lebih murah dan kenal orang dalam—, serta DALLIGi buatan para mantan pegawai kekaisaran dari Jepang, Cina dan Korea. Setiap dari mereka memiliki antek-nya di wilayah gelap dunia, untuk berbisnis dengan orang-orang seperti kami yang membutuhkan jasa mereka.

140775-apocalypse-city-post-apocalyptic-ruins

Aku lahir dan besar di lingkungan kelompok berandal pemuda Borneo yang berada di pulau Kalimantan. Disana teman-temanku banyak yang diburu karena ketahuan bergabung dengan geng ini, yang akhirnya di umur 16 tahun aku melarikan diri bersama yang lain ke Yogyakarta untuk menyelamatkan diri. Namun tidak sampai setahun tinggal disana, terjadi pecah perang dan penangkapan besar-besaran keluarga kesultanan Yogya—saat puncak revolusi Bumi, mereka sudah menyerah dan sepakat bergabung dengan Dewan Dunia­—yang membuat kota Yogya terbakar selama 20 hari. Kami pun berusaha menyelamatkan diri dan lari, hingga akhirnya berbulan-bulan dalam pelarian kami berhasil memasuki wilayah gunung Galunggung yang sangat aman dari jangkauan drone pelacak dan polisi robot. Saat itu juga aku mengutuk sekeras-kerasnya seluruh robot dan tidak ketinggalan Dewan Dunia yang memerintahkan mereka karena telah membuat kehidupanku hancur berantakan. Kami beristirahat selama seminggu penuh di Gunung Galunggung, dan berencana meneruskan perjalanan menuju kota Bandung yang dimana menjadi tujuan utama perjalanan ini. Karena sesuai dengan informasi yang kami dapat, disana merupakan kota megapolitan yang di dalamnya terdapat ratusan ribu kelompok bawah tanah yang dapat kami jadikan tempat berlindung.

Sesampainya di kota Bandung, aku sempat kesulitan dalam menghindari robot polisi yang terus melakukan razia-razia terhadap manusia. Namun, setelah berminggu-minggu berpindah-pindah mencari tempat bersembunyi, akhirnya saat ini aku sudah dapat  berdiri dengan pijakan yang cukup aman dan memiliki pekerjaan sebagai musisi jalanan untuk menghidupiku. Dan di Kota  inilah aku berhasil memulai kembali segalanya, bertemu dengan para geng dan kelompok-kelompok mafia seluruh dunia yang menjalankan bisnis bawah tanah mereka yang sulit terlacak, serta bertemu dengan wanita cantik bak bidadari dari kota Kiev di utara yang membuat mataku tidak bisa beralih ketika memandang rupa nya yang akhirnya menjadi istriku dan juga rekan seperjuanganku.

Bumi 2235, aku hanyalah seorang wanita tunawisma 56 tahun yang sudah melihat langsung perubahan dunia yang sangat drastis di depan mataku sejak aku dilahirkan di dunia hingga umurku 10 tahun. Peperangan, kematian, tangisan, darah, bom, dan luka sudah menjadi sejarah pahit yang tidak bisa aku lupakan akibat peperangan manusia melawan penguasa tentara robot. Revolusi dunia yang dimulai pada tahun 2155 dan berakhir  tahun 2189 memang telah berhasil menjadikan Bumi berada dibawah satu bendera saja, yang dipimpin langsung oleh 10 orang yang menyatakan bahwa mereka adalah representasi pemimpin seluruh Bumi—lebih dikenal dengan nama Ten Wisest Men. Mereka yang dikenal sebagai Ten Wisest Men inilah yang akhirnya mendeklarasikan sebagai pemerintah dunia dan seketika mengubah nama mereka menjadi Dewan Dunia setelah revolusi tercapai.

Dewan Dunia pun menguasai persenjataan, teknologi, serta seluruh tentara dan polisi robot yang ada diseluruh dunia. Hal ini membuat mereka memiliki kekuasaan yang absolut tanpa celah. Siapapun dari setiap manusia yang dicurigai ingin membuat perkumpulan atau grup diskusi—ini dianggap cikal bakal pemberontakan dan penyebaran ide radikalisme—akan langsung dipenjara tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Banyak pemuda yang masih memiliki semangat kebebasan yang tertangkap dan tidak pernah kembali ke masyrakat setelah diburu dan ditangkap secara paksa. Ada yang mengatakan mereka telah disiksa dan dibunuh, lalu mayatnya dibuang di sungai Amazon, ada juga yang mengatakan bahwa mereka dijadikan budak di pusat pemerintahan Dewan Dunia di Bulan, hingga ajal mereka sendiri yang menjemput. Yang jelas Dewan Dunia sudah berhasil menciptakan masyarakat yang takut dengan hukum mereka.

committee-of-new-world-order

Namun ada kejanggalan yang cukup mengusik seluruh manusia dibumi. Karena fakta bahwa tidak ada manusia—yang aku tahu sejauh ini­—yang pernah meliat langsung wajah para Dewan Dunia sangatlah mencengangkan. Mereka bahkan tidak pernah memasang propaganda dengan wajah mereka terlihat. Banyak desas-desus yang mengatakan bahwa mereka adalah 10 Alien dari planet Mars yang sangat cerdas dan ingin memperbaiki Bumi dari peperangan tiada henti antar manusia. Ada juga menurut tetangga tidurku di bawah jembatan rel layang HoverTrain di London—karena aku tidak punya rumah­—mengatakan bahwa mereka sebenarnya adalah robot yang dibuat oleh ilmuwan-ilmuwan dunia di masa lalu dengan kecerdasan buatan yang sangat hebat untuk membantu manusia, namun malah berbalik menyerang dan menguasai seluruh sistem persenjataan. Aku toh lebih percaya kepada teoriku sendiri bahwa Dewan Dunia memang dibentuk oleh 10 orang manusia, namun tergila-gila akan kekuasaan dan ingin menguasai Bumi, dibanding teori tak masuk akal teman tidurku yang terobsesi dengan hal-hal konspirasi tantang mesin yang menguasai dunia, dan desas-desus bodoh tentang 10 Alien turun ke Bumi.

Aku sesungguhnya adalah orang yang sudah sangat lelah dengan segala macam konflik di umur yang sudah tidak muda ini. Bahkan bila memang itu yang terbaik, menurutku menjadi budak mesin selamanya juga tidak masalah buatku, asal mereka tidak mengganggu tidurku yang lelap di bawah jembatan rel layang HoverTrainku tersayang. Namun yang tidak aku ketahui, hidupku ternyata tidak akan setenang itu, karena malam itu juga, mereka sudah merayap di bawah jalan-jalan kota, menuju Tanah Perjanjian.

Bumi 2237, aku bekerja tanpa henti setiap harinya dipertanian terbesar di seluruh bumi—bahkan mungkin diseluruh alam semesta—di benua Amerika. Semenjak Polisi Robot menangkapku 9 tahun yang lalu karena tertangkap basah mencuri buah di swalayan, aku dikirim menjadi budak untuk kerja paksa di pertanian di tenggara benua Amerika, tepatnya berada di tempat yang bernama Norte Chico. Sesuai dengan perintah Dewan Dunia, Seluruh Benua Amerika dari paling Utara hingga paling selatan menjadi sektor pertanian dan perkebunan yang seluruhnya dikerjakan oleh para budak-budak yang merupakan tahanan yang ditangkap di lokasi manapun di seluruh dunia. Namun tidak semuanya tahanan dikirim ke benua Amerika untuk bertani maupun berkebun, ada beberapa tahanan yang dikirim ke Bulan, walaupun sangat sedikit—tidak sampai 1% dari keseluruhan budak. Karena Bulan merupakan markas besar Dewan Dunia, tentu saja semua orang sangat penasaran dengan tugas apa yang diberikan oleh mereka disana. Namun setelah beberapa bulan bekerja di Norte Chico, sudah tidak ada lagi dari kami yang penasaran dengan apa yang budak-budak itu kerjakan di Bulan, karena yang kami cukup tahu adalah, dikirim kemanapun saat itu, kami tidak akan pernah kembali kerumah.

Aku hanyalah seorang bocah nakal yang baru menginjak umur 8 tahun ketika dibawa dari kota kelahiranku Kairo menuju benua Amerika. Bahkan keluargaku tidak pernah melihatku sejak saat itu dan tidak pernah tahu aku dikirim ke mana. Di sini, selama puluhan tahun dikalangan para budak sudah banyak yang berencana untuk melarikan diri dan mencoba keluar dari benua Amerika. Namun hasilnya nihil, banyak dari mereka yang sudah ditembak mati saat tertangkap tangan sedang berkumpul membuat desain pelarian, ada juga yang nekat membuat rakit dan ingin menyebrangi Samudra Pasifik menuju Pulau Hawaii, namun sudah dijatuhkan bom oleh drone Dewan Dunia sesaat ia baru merasakan kebebasan. Seluruh kegiatan kami disini diawasi oleh Dewan Dunia melalui ribuan drone dan tentara robot yang bertindak sebagai mandor, seakan-akan mereka siap menghukum mati kami ketika ketahuan sedang enak mengupil saat sedang bekerja. Namun hal itu ternyata tidak berlangsung lama lagi, karena dimalam hari saat semua budak mendengkur dengan hebatnya karena kelelahan, terdengar suara ledakan yang  amat dahsyat hingga memekakkan telinga tepat dari luar tenda. Ledakan itu terjadi ratusan kali hingga terasa tanah bergetar dengan hebatnya. Tak ada dari kami yang cukup berani untuk menengok apa yang terjadi di luar sana. Hingga kami dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba menerobos masuk tenda dengan wajah ditutupi topeng menyerupai burung gagak—aku tidak begitu mengingatnya, karena kejadian itu begitu cepat—berwarna coklat, bersenjata lengkap, serta menggunakan baju pelindung dan dengan lantang berteriak kearah kami: “CEPAT KELUAR! AYO KE TANAH PERJANJIAN! KOBARKAN API PEMBEBASAN!!!”.

Bumi 2240, Sudah tiga tahun sejak pemberontakan manusia terhadap Dewan Dunia, di Bumi terjadi kekacauan, kengerian yang sudah lama tidak terjadi. Banyak orang yang mati, pejuang atau bukan, sehat atau sakit, bersenjata atau tidak. Dewan Dunia sudah sangat marah hingga mengirimkan seluruh pasukannya dari bulan untuk menghabisi seluruh pemberontak. Namun yang tidak disadari oleh Dewan Dunia adalah bahwa 90% manusia di Bumi adalah pemberontak rezim pemerintahannya.

Aku adalah seorang perawat wanita yang membantu merawat pejuang garis depan yang terluka. Tepat tiga tahun lalu saat aku baru saja melangsungkan pernikahan di pulau Kyuushu­—saat itu usiaku 24 tahun—meledak pemberontakan manusia terbesar setelah puluhan tahun dibawah rezim Dewan Dunia yang mengekang. Masa indah awal pernikahanku ternyata tidak seindah yang aku bayangkan. Suamiku adalah anggota kelompok geng pelaut Melayu yang bergabung dalam aliansi pemberontak, dan aku sendiri adalah anggota kelompok geng wanita Himalaya yang ahli dalam obat-obatan dan pembuatan senjata api. Sehingga sudah dipastikan kami berdua langsung berangkat menuju medan tempur garis depan saat pemberontakan terjadi. Seluruh pemimpin pemberontak yang berjumlah 127 orang yang semuanya membawahi beberapa kelompok dan geng di seluruh dunia serentak mengumandangkan: “BERANGKAT KE TANAH PERJANJIAN!!” —yang dimana pun itu tempatnya aku tidak pernah tau. Kami pun terus maju menembus barikade robot-robot tentara serta pesawat-pesawat tempur yang dikendalikan oleh mesin, untuk menuju yang disebut Tanah Perjanjian.

Perang meletus siang dan malam, robot mungkin tidak pernah merasakan lelah, namun mereka harus memiliki sumber tenaga yang bila itu hancur maka akan berhenti juga kerjanya—itulah yang menjadi tujuan kami semua. Kami bersembunyi di bunkerbunker instan yang kami buat saat perang berlangsung sebagai tempat markas berlindung. Jumlah orang tewas dan terluka terus bertambah setiap harinya, bahkan selama tiga tahun pertempuran ini kami belum juga sampai di Tanah Perjanjian karena blokade tentara Robot yang begitu ketat memisahan kelompok kami dengan kelompok lainnya. Aku sudah cukup putus asa dengan pertempuran ini, apakah kami sanggup untuk terus bertempur?. Hal itu yang menjadi pikiranku bulan-bulan terakhir. Milyaran manusia menuju Tanah Perjanjian, yang mana hanya sedikit mengetahui letaknya, sesampainya disana apakah kita langsung menang? Ada apa disana? Senjata maha canggih kah?. Aku masih terus berusaha menjaga semangat teman-teman dan tentara yang terluka untuk terus optimis, namun aku sendiri pun ternyata merasa sudah tidak sanggup meneruskan perjalanan. Robot-robot itu begitu mengerikan.

apocalypse_wallpaper-18154

Terakhir aku melihat suamiku adalah 2 minggu yang lalu, dia sempat terluka tembak di paha atas sebelah kanan dan kehabisan banyak sekali darah, aku sampai gemetar tidak dapat bergerak ketika melihatnya. Namun iya terus tersenyum kepadaku saat lukanya dijahit oleh perawat lain. Ia terus menerus mengatakan kepadaku “Tenang sayang, aku tidak akan mati…aku tidak akan mati. Kita akan sampai ke Tanah Perjanjian sebentar lagi”, wajahku pun hanya bisa membeku dan meneteskan air mata karna aku hampir tidak yakin akankah kami masih hidup sesampainya di Tanah Perjanjian ini. Semakin maju tentara kami semakin padat blokade para tentara robot, dan semakin sulit kami untuk terus melanjutkan perjalanan. Yang aku tahu adalah kami terus berjalan menuju barat, hingga sampai di kota Islamabad lalu meneruskan perjalanan hingga Karachi. Di kota Karachi lah kami bertemu kelompok geng lain yang menyebut dirinya Mustaqil dari tanah Kazakhstan dan Uzbekistan yang sudah menguasai kota. Lalu dari Karachi kami berpisah, kami menyebrang melewati selat Oman menggunakan kapal tempur dan kapal selam sedangkan para Mustaqil memilih jalur darat untuk bertemu dan membantu kelompok lain yang masih terhenti di kota Tehran. Namun kami sudah berjanji untuk berkumpul di Jarusalem lalu Kairo untuk menembus barikade terakhir pasukan robot yang menjaga Tanah Perjanjian.

goodwp.com_16480

Saat itu lah harapanku muncul kembali, perjuangan yang sangat berat ini semakin menunjukkan cahayanya. Namun ketika menyebrang selat ternyata kami sudah siap dihadang drone-drone raksasa dan pesawat penghancur Dewan Dunia. Saat itu pasukan kami yang terdiri dari ratusan ribu kapal perang dan kapal selam memutuskan harus membagi kelompok menjadi dua. Satu kelompok meneruskan melalui Selat Oman dan kelompok yang lain memutar melalu Laut Arab dan berhenti di Tanah Liar Somalia di Benua Afrika. Dan saat itu lah aku terpisah dari suamiku, kami berada di kapal yang berbeda dalam kelompok yang terbagi menjadi dua. Berbulan-bulan kami bertempur di laut, yang akhirnya kami berhasil sampai di Tanah Liar Somalia dengan hanya 20 kapal yang hancur karena terkena serangan bom. Karena kami tidak mendapatkan kabar dari kelompok yang menyebrang melalui selat Oman, yang dapat kami lakukan hanyalah terus maju mengikuti instruksi pemimpin kami. Dan tepat di pagi hari, hari ke 700 pertempuran kami di Benua Afrika menuju utara dari Somalia hingga Ethiopia, pemimpin kami pun berteriak: “BANGUN SAUDARAKU! BANGUN! BANGUN! KITA TELAH SAMPAI DI TANAH PERJANJIAN! TIDAK AKAN ADA YANG DAPAT MENGHENTIKAN KITA LAGI! MAJU!!!”. Dan saat itu pula kami mendapat kabar dari pejuang pembebas budak di benua Amerika yang sudah lebih dahulu sampai di Tanah Perjanjian dan terus memantau pergerakan seluruh pasukan pemberontak di seluruh dunia, bahwa kelompok kami yang satunya telah di bom habis oleh drone raksasa di selat Oman, hanya tersisa sekitar 18 kapal tempur dan 34 kapal selam yang selamat sampai di daratan. Dan saat itu aku pun tahu bahwa kapal suamiku terkasih bukanlah salah satunya. Aku hanya diam menatap hamparan Gurun pasir yang sangat luas. Dan hilang kesadaran.

Bulan 2245, Aku hanya bisa meringkuk di sini tanpa bisa melawan. Aku hanya tidak tahu apa yang salah dengan kami. Kami hanya meneruskan cita-cita suci para orang tua kami yang menginginkan Bumi terhindar dari peperangan berkepanjangan. Kenapa para manusia barbar itu tidak ada yang takut akan kuasa dewa kami? Aku Apollo, pemimpin dari Dewan Dunia yang telah mewarisi semua ilmu dan kuasa dari seluruh anggota Ten Wisest Men pertama. Aku dididik untuk mejaga kestabilan Bumi dari tangan-tangan jahat manusia. Untuk menjadi perwakilan Tuhan dengan menghukum mereka yang merusak tatanan sosial, melanggar hukum, serta terus mengawasi tingkah laku setiap dari mereka di Bumi. Aku bersama 9 orang saudaraku di Bulan sudah bekerja sangat keras untuk memerintah mereka para manusia, mengekang mereka, menghukum mereka, kenapa mereka sebegitu kuatnya mencoba untuk merdeka? Kenapa mereka tidak menurut saja dan diam di rumah masing-masing?!

Tahun 2240, mereka berhasil menemukan monolit yang sudah ditanam oleh Ten Wisest Men pertama di kuil bawah tanah di Gurun Sahara. Monolit yang menghubungkan seluruh informasi dari Bulan ke Bumi maupun sebaliknya, monolit yang mengendalikan setiap robot di seluruh Bumi dan sebagai energi penggerak nya. Monolit yang kembarannya berada di Bulan itu sangat mudah dikenali karena bentuknya menyerupai limas putih—seperti Piramida di Mesir—yang terbuat dari batu pualam yang sangat besar. Para manusia itu menentang kehendak kami yang memberikan meraka kenyamanan tanpa peperangan dengan sesama, memberikan mereka aturan-aturan yang akan menjaga mereka dari berbuat jahat. Kami menjadikan beberapa tahanan untuk bekerja di Bulan sebagai pelayan kami disini, ada yang bertindak sebagai pelayan untuk meletakkan bayi kami di perut mereka—demi meneruskan tonggak kepemimpinan Dewan Dunia dimasa depan—dan ada pula sebagai pelayan yang membersihkan dan membuat makanan di seluruh markas Dewan Dunia. Walaupun kebanyakan dari mereka mati karena ingin melakukan percobaan pembunuhan kepada kami, dan juga saat mereka mencoba kabur dari markas Dewan Dunia. Namun kami masih memaafkan tindakan bodoh mereka. Kenapa mereka sebegitu tidak berterima kasihnya kepada kami?.

Selang dua tahun setelah mematikan seluruh robot tentara dan seluruh teknologi yang dikendalikan oleh monoloit itu di muka Bumi, mereka mulai berani mengirim pasukan menuju Bulan dengan pesawat ruang angkasa dengan tujuan untuk memerangi kami Dewan Dunia yang telah memimpin mereka para manusia. Dan selama tiga tahun mereka menginjakkan kaki di Bulan, mereka sudah berhasil menghancurkan hampir seluruh pertahanan kami. Mereka berhasil menembus benteng yang kami buat dengan pertahanan maksimum layaknya tembok kerajaan Troya yang tak tertembus dengan robot tentara yang sangat banyak. Mereka telah masuk menginjak-injak serta menghancurkan pemakaman suci para pendahulu kami. Aku bersama 9 saudaraku hanya bisa duduk membeku di ruang kontrol—kembaran monoloit yang di Bumi juga berada di ruangan ini—menunggu kedatangan para pemberontak yang marah. Para pemberontak dari Bumi itu pasti berpikir bahwa aku dan Dewan Dunia yang lainnya hanya dapat diam tidak berkutik dan menunggu amukan mereka. Namun mereka salah. Ten Wisest Men pertama sudah membuat sebuah rencana yang sangat matang sebelum mereka melaksanakan revolusi Bumi 9 dekade silam. Mereka telah membuat sebuah rencana darurat bila hal ini akan terjadi. Rencana itu sudah tersimpan rapi tepat di bawah monoloit pualam­—monoloit itu melayang beberapa meter dari lantai dan berbentuk limas terbalik­—yang menunjuk ke sebuah kubus hitam misterius yang memiliki ukuran sebesar kepala manusia dewasa. Aku sudah bersiap di depannya dan segera menginstruksikan kepada 9 saudaraku untuk semua berkumpul melingkari kubus hitam misterius itu. Kami lalu berdiri melingkar dan bergantian memberikan sehelai rambut kami kepada kubus hitam itu—yang langsung menghisapnya layaknya lubang hitam. Helai rambut kami tersebut melambangkan setiap gen yang kami miliki dan memberikan tanda bahwa kami 10 Dewan Dunia sudah sepakat mengaktifkan kubus hitam itu untuk menerima instruksi selanjutnya, dimana hanya aku—sang pemimpin Dewan Dunia yang diberikan kata kunci instruksi darurat tersebut oleh Ten Wisest Men pertama.

“Saudaraku yang kucintai, sangat disayangkan usaha Ten Wisest Men pertama untuk menjaga perdamaian Bumi tidaklah berhasil tercipta dan harus berhenti ditangan kita. Bila kita jatuh maka akan aku sampaikan pesan Ten Wisest Man pertama: Jangan biarkan sang burung gagak mendapatkan mahkotanya. Menang atau hancur bersama. NARCHA SITHI LE MESOORA*”

space-and-universe-wallpaper-img7

Aku pun selesai mengucapkan salam terakhir untuk 9 saudaraku yang saat ini berdiri melingkar dan saling berpegangan tangan sambil menunggu kata kunci aktifasi kubus hitam keluar dari mulutku.  Saat itu pula suara ledakan sangat nyaring terdengar dari pintu raksasa ruang kontrol yang hancur akibat bom yang dilancarkan para pemberontak. Pintu hancur hingga berkeping-keping dan membuka jalan selebar mungkin untuk mereka masuk ke ruang kontrol kami, seketika seorang pemberontak loncat berlari layaknya orang kesetanan berteriak kepada pasukan dibelakangnya.

“CEPAT HENTIKAN MEREKA! CEPAT! CEPAT CEPAAT!!” teriaknya sekuat tenaga sambil berlari menuju kami.

Dan saat itu lah aku melihatnya, sang dalang dibalik semuanya,  topeng gagak yang telah menjadi ciri khas mereka dalam setiap pertempuran. Mereka yang memperebutkan tahta Bumi pada saat pecah perang revolusi Bumi dengan para anggota Ten Wisest Man, 90 tahun yang lalu. Mereka yang ingin mengambil alih kendali Bumi dari tangan kami. Tidak akan aku biarkan. Aku Apollo, ketua 10 Dewan Dunia lebih baik mati bersamanya daripada harus memberikan tongkat kekuasaan ini.

Halsinnoor Me…Marca-marca. Hopsun asto narci un galatho der Arraahuis!**” kata-kataku yang terakhir ini berhasil membuat para saudaraku tersenyum.

Lalu saudaraku yang paling muda mengatakan  “Belsofeth un der kuus me marca…kami siap***”.

Aku pun akhirnya meneriakkan kata kunci terakhir dengan sangat keras kepada kubus hitam misterius itu—yang sesungguhnya dengan suara pelan saja sudah cukup—sampai seakan-akan urat  leherku keluar semua dari tenggorokan. Karena aku tahu itu adalah teriakan terakhirku. Teriakan kekalahan sekaligus kemenangan. Ketika kubus hitam itu mengaktifkan penghancuran diri terhadap markas Dewan Dunia bersama Bulan. Aku mendengar teriakan keputus asaan sang gagak karena gagal mendapatkan mahkotanya. Aku tidak pernah tahu apakah aku salah atau benar dalam menjalankan tugasku sebagai Dewan Dunia. Namun yang aku yakini, aku melakukan tugas dengan baik demi menjaga kedamaian Planet biru yang penuh peperangan itu. Mungkin sudah tabiat manusia untuk melakukan kekerasan, mungkin sudah hasrat manusia untuk menguasai, tetapi yang kusadari di detik-detik ajal ku menjemput—dan membuatku tersenyum bingung—mungkin memang sudah takdir manusia untuk menjadi makhluk yang tidak bisa terkekang dan harus bebas berenang layaknya ikan di tengah samudra. Yah Setidaknya, aku mati karena keyakinanku. Aku tidak pernah menyesal. Halsinoor me….marca****.

*) Hidup dan matilah dengan keyakinan

**) Selamat tinggal kalian saudaraku…Semoga roh mu tenang di alam baka!

***) Saudaraku, sebutkanlah kata kuncinya…kami siap

****) Selamat tinggal Saudaraku…

Advertisements

2 thoughts on “Cerpen: The Diary Of The Earth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s