Curhat: Bebek ‘Nungging’ Di Wajah Sang Garuda

legislatifco_u8w6p_1600

Bandung, 12 April Tahun Nungging ‘Satu’

Jangan pernah percaya tulisan ini, karena saya bukan publik figur ataupun penyanyi dangdut. Jangan pernah percaya tulisan ini karena saya bukan ahli hukum ataupun sejarah. Saya hanya mahasiswa tingkat akhir yang menghabiskan waktunya di pojok ruangan sambil membaca buku yang tidak menarik. Saya hanya pemuda tanggung yang sering galau dan menulis bait-bait syair tentang rasa sepi. Duh kok galau…….Jadi intinya sih ini sebenarnya cuma celoteh busuk mahasiswa tingkat akhir yang galau skripsi karena gak dapet-dapet judul.

Jadi kemarin-kemarin (kapan?), seperti biasanya kegiatan sehari-hari  menghabiskan waktu di depan laptop yang penuh sticker gratis. Sambil browsing di internet eh, ternyata berhasil menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu saya pendam dalam diri saja karena gatau harus ngapain. Mau komentar gatau mau komentar kesiapa, mau marah-marah gatau mau marah kesiapa. Alhasil karena memendam perasaan yang begitu campur aduk terlalu lama saya sempat mencret dan kena wasir (apa hubungannya??). Namun karena sekarang sudah sembuh dari mencret dan wasirnya, maka saya dengan berat hati curhat di blog ini.

Perasaan saya yang campur aduk itu dikarenakan sebuah berita yang saya baca di salah satu website berita terkini. Berita itu mengatakan bahwa seorang biduan terkenal yang tersandung kasus penghinaan terhadap “Lambang Negara” dijadikan Duta Pancasila oleh DPR RI. Gak Cuma disitu mas bro, dia juga dijadikan ‘Dokter Klinik Pancasila’-nya milik Kementrian Pertahanan (Kemenhan), wow!. Saya yakin itu Founding Fathers mau sekali lagi bangun dari kubur cuma untuk ngomong WOW ke kamera, untung aja Tuhan gak mengizinkan. Alasan dari salah satu anggota DPR RI yang menyematkan Duta Pancasila kepada biduan itu adalah karena dia “publik figur”, dan seorang publik figur itu suaranya lebih didengar daripada politisi. Gitu sih katanya, percaya atau gak percaya.

Nah, ngomong-ngomong soal Pancasila nih, pasti kita langsung inget para pahlawan dan bapak-bapak pendiri bangsa ini dong pastinya. Kalian pasti inget sejarah Indonesia dimana para bapak-bapak bangsa, pembesar,para raja, serta kaum intelek bangsa berkumpul untuk membuat lambang dan dasar negara yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa, serta menjadi landasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri sehingga tidak kehilangan jati dirinya. Apa kalian tau yang merancang Garuda Pancasila adalah Sultan Hamid II dari Pontianak?. Ya, perancangnya adalah seorang Sultan mas bro, seorang Raja dari Pontianak sekaligus Menteri Negara Zonder Portofolio di awal mula pemerintahan Indonesia yang saat itu masih Republik Indonesia Serikat (RIS), bukan anak lulusan DKV yang lagi magang, bukan juga lulusan dari sebuah kursus desain, atau bahkan seorang mahasiswa di divisi publikasi di dalam kepanitiaan kampusnya.

Lucunya semakin saya berpikir tentang berita ini saya malah teringat tentang kejadian dimana sebuah pementasan teater monolog Tan Malaka di Bandung (23/03/2016), seorang tokoh bangsa, seorang nasionalis, seorang Pancasilais sejati, di bubarkan paksa oleh ormas yang mengatasnamakan Agama karena Tan Malaka adalah tokoh Komunis kata mereka. Ya, seorang tokoh yang memperjuangkan martabat bangsa dengan tulisannya, yang mencengkram erat sayap Pancasila dalam hatinya jangan pernah bermimpi untuk menjadi Duta Pancasila ataupun Dokter Klinik Pancasila, bahkan saat jasadnya sudah tiada pun tetap dianggap bukan bagian dari bangsa. Padahal sang “biduan” saat menghina Lambang Negara kita yang di buat oleh para pembesar bangsa ini jangankan Ormas, bahkan Presiden pun tidak berkomentar apa-apa, mungkin karena publik figur. Kan publik figur suaranya lebih didengar daripada politisi. Katanya.

Puluhan ribu mahasiswa, buruh, sastrawan, seniman setiap tahunnya terus melakukan diskusi-diskusi serta aksi-aksi menuntut kembalinya bangsa ini ke jalur Pancasila melalui caranya masing-masing. Mereka dikejar anjing polisi, di hantui ormas, berdarah namun tetap berteriak. Hanya untuk satu tujuan, kembalinya nilai-nilai Pancasila yang sudah semakin hilang dari hati para penguasa. Namun apa yang diberikan bangsa ini kepada mereka? Hanya cemooh dan pembubaran paksa. Padahal banyak sekali pemuda-pemudi di Indonesia yang LEBIH PANTAS menyandang Duta Pancasila. Dari seorang Ilmuwan Indonesia yang masih memegang nasionalitasnya di luar negeri, para atlet-atlet yang berjuang untuk Indonesia di kancah dunia, ataupun para seniman muda cemerlang yang terus menyematkan merah putih di dadanya. Namun ternyata seorang biduan sexy dengan ‘goyang itik’- nya lah yang berhasil membungkam para aparat, pemimpin, bahkan ormas keagamaan untuk terus tersenyum bahagia sambil menyematkan sebuah penghargaan sebagai Duta Pancasila. Sungguh lucu bangsa ini ketika orang yang mengatakan: Pancasila adalah Bebek Nungging, ternyata lebih pantas menjadi Duta Pancasila dibanding para pemuda/i berprestasi di seluruh Indonesia.

Saya saat ini kadang berharap roh-roh Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, M. Yamin, Ki Hajar Dewantara, Ahmad Subarjo, Agus Salim dll datang dan mendatangi para pemimpin saat ini untuk menampar mereka dalam tidur dan menenggelamkan mereka dalam laut darah dari para pejuang di masa lalu. Membuat mereka sadar betapa sulitnya hanya untuk mengibarkan sang Saka. Betapa sulitnya menyatukan pemimpin-pemimpin Nusantara yang terpisah-pisah disetiap kerajaan untuk membentuk NKRI dan duduk bersama membentuk  five principles of life yang menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah Nusantara. Nilai-nilai luhur Pancasila semakin tergerus dalam masyarakat Indonesia, mereka yang masih terus berjuang mempertahankannya malah semakin terkucilkan di masyarakat. Bahkan ada yang hilang dan mati seperti yang terjadi pada Marsinah dan Wiji Thukul pada zaman Orba. Mereka bukan lah Komunis, mereka hanya memperjuangkan apa yang mereka yakini benar tanpa sedikitpun menghina Pancasila. Namun apa yang terjadi? Mati? Hilang?

Ah, udahlah, kopi yang saya buat beberapa menit lalu sudah dinging gak karuan gara-gara terlalu lama curhat di blog ini. Kalau kata si ‘biduan’, Pancasila itu Bebek Nungging maka selamat! Tahun 2016 ini Indonesia sudah berhasil meletakkan Bebek Nungging sebagai bagian dari pancasila.

Karena dada Garuda Pancasila sudah penuh denga lambang ke-lima sila. Saya usul untuk meletakkan Bebek Nungging TEPAT didepan wajah Sang Garuda. Biar lucu gitu. Lucu seperti  lawakan yang di sematkan pemimpin kita dengan membiarkan pembubaran acara mengenang tokoh Pancasila namun mengizinkan pantat mulus sang biduan berlenggak lenggok di atas nama founding fathers Indonesia.

 

Atas nama rakyat Bebek Nungging

Zaskia Gotik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s